Jumat, 14 Mei 2010

tasawuf dan psikologi agama

TASAWUF DAN PSIKOLOGI AGAMA

A. Pengantar

Islam adalah sebuah ajaran abadi yang dapat hidup disebuah zaman dan semua tempat dengan sebuah dimensi baru. Dalam Islam keberagaman pemeluknya begitu luar biasa. Kultur memisahkan Mongol, Turki, Indinesia, dan Maghribi, namun demikian mereka semua terhubung oleh ajaran yang sama dan mereka mewarisinya tanpa pernah berhenti mengalami evolusi dalam semua wilayah sosio-kultural mereka masing-masing.

Religi ini tergabung dalam sebuah kesinambungan ajarankenabian yang diserukan oleh Yudhaisme dan Kristianisme. Meskipun demikian sangatlah mengherankan dan menyedihkan, bahwa ketiga agama yang berasal dari sebuah sumber spiritual yang sama ini berabad-abad lamanya saling bertikai dengan segala macam kesalahpahaman dan ketiadaan toleransi diantara mereka.

Pada jantung religi ini, terdapat sebuah tradisi yang berusia ribuan tahun yaitu tasawuf (sufisme) yang merupakan aspek mistik islam. Karena menurut Dr. Jaluddin (1997:117), sufisme atau disebut juga mistisisme merupakan salah satu sisi dan pokok bahasan dalam psikologi agama. Sebutan sifisme ini tidak dikenal dalam agama-agama lain, melainkan khusus disebut mistisisme Islam. Sebagaimana halnya mistisisme , tasawuf atau sufisme mempunyai tujuan memperoleh langsung dan disadari dengan Tuhan., sehingga disadari benar bahwa seseorang berada dihadirat Tuhan. Intisarinya adalah kesadaran akan adanya komuniksai dan dialog antara roh manusia dengan Tuhan dengan mengsingkan diri dan berkontemplasi. Kesadaran berada dekat Tuhan itu dapat mengambil bentuk ijtihad, bersatu dengan Tuhan.

B. Pengertian Psikologi Agama dan Tasawuf

Menurut DR. Jalaluddin, psikologi Agama adalah cabang spikologi yang meneliti dan mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan pengaruh keyakinan terhadap agama yang dianutnya serta dalam kaitannya dengan perkembangan usia masing-masing. Upaya untuk mempelajari tingklah laku keagama dan tersebut merupakan kajian empiris.

Sedangkan berbicara tentang pengertian tasawuf, dalam terminologi Islam, ternyata banyak para ahli dan tokoh-tokoh Islam yang berbeda pendapat tentang apa yang sebenarnya pengertian tasawuf itu secara baik dan benar. Nampaknya disini kita perlu melihat beberapa pengertian itu antara lain:

1. Tasawuf berasal ari istilah “ahlu Shuffah” arinya sekelompok orang dizaman Rasulullah Saw yang hidupnya banyak berdiam diri diserambi-serambi mesjid dan mereka hanya mengabdikan seluruh hidupnya untuk beribadah kepada Allah SWT.

2. Tasawuf berasal dari kat “Shof” yang maksudnya adalah barisan orang yang dalam sholat yang berada di sohf yang paling depan.

3. Tasawuf berasal dari kata “Shaffa” yang artinya adalah orang-orang bersih dan suci yang mensucikan dirinya dihadapan Tuhannya sesuci-sucinya.

4. Tasawuf diasrtikan sebagai sekelompok orang-orang bani Shuffah

5. Tasawuf diartikan dari bahasa Grik atau Yuanani, yakni “Saufi” yang berarti hikmah atau kebijaksanaan.

6. Tasawuf berasal dari kata “Shaufanah” yaitu sebangsa buah-buahan kecil dan berbulu banyak yang tumbuh di padang pasir di tanah Arab, dan pakaian kaum sufi adalah berbulu-bulu seperti buah itu pula.

7. Tasawuf bersal dari kata “Suff” yang berarti bulu domba atau wol, maksudnya adalah kaum sufi itu adalah kaum yang sering kali berpakaian yang berasal dari bulu domb yang menimbulkan kesederhanaan dan kefakiran. (Rosihan Anwar, 2000:9).

Dari ketujuh pengertian tersebut di atas yang diaukui oleh banyak kalangan adalah yang ketujuh, yaitu makna tasawuf dengan istilah “Shuff” yakni kaum sufi adalah kaum yang menggunakan pakaian woll, walaupun kenyataannya tidak semua kaum sufi berpakaian wol.

Pengertian tasawuf secara terminologipun tidak sedikit para ahli yang berbeda pendapat, hal ini nampaknya disebabkan oleh selera masing-masing dalam memaknai kata tasawuf. Akan tetapi untuk memberikan penekanan pada pemabahasan ilmu taswawuf ini, penulis coba pengutip pendapat Al-Junaidi tentang tasawuf, seperti yang dikutip oleh Mukhtar Solihin, yaitu ilmu tasawuf adalah ilmu yang mempelajari tentang pembersihan diri, berjuang memerangi hawa nafsu, mencari jalan kesucian dengan makrifat menuju keabadian, saling mengingatkan antara manusia serta berpegang teguh pada janji Allah dan mengikuti syari’at Rasulullah saw, dengan mendekatkan diri dan mencapai keridhoan-Nya.

C. Maqamat-maqamat dalam Pencapaian Tasawuf

Pada bab sebelumnya sempat dijelaskan bahwa tasawuf juga lebih diidentikan dengan perilaku atau akhlak seseorang. Tasawuf disini dimaksudkan untuk merubah dan memperbaiki akhlak yang mulia. Dalam pemikiran tasawuf ini dibutuhkan untuk sebuah terapi yang tidak hanya bersifat lahiriah tetapi juga bathiniahnya. Dari sinilah kemudian muncullah riyadhoh (latihan). Tujuannya adalah menguasai hawa nafsu, untuk itulah tasawuf akhlaki menerapkan terapi pembinaan mental dan akhlak yang disusun sebagi berikut:

1. Terapi Takhalli

Takhalli adalah mengosongkan diri dari perilaku dan akhlak tercela, ini adalah langkah pertama yang harus dijalani oleh seorang sufi untuk memasuki dunia tasawuf yang suci. Salah satu akhlak tercela itu adalah perangkap kenikmatan duniawi, sebagai penyebab penghalang perjalanan seorang hamba pada Tuhannya, untuk mencapai kebahagiaan spiritual yanng hakiki. Akhlak tercela yang paling berbahaya adalah sifat Riya’. Dimana setiap amal ibadah kita selalu berharap dipuji dan diagungkan oleh manusia, ini adalah simbol perasaan lebih unggul, superrioritas dan ingin menang sendiri. Imam Al-Ghazali menganggapnya penyembuhan diri yang termasuk dalam politeisme.

2. Terapi Tahalli

Terapi ni dilakukan agar seseorang dihiasi oleh sikap, perilaku dan akhlakul karimah. Tahap ini dilakukan setelah tahap pertama selesai, lalu mereka akan selalu berusaha berjalan di atas ketentuan agama. Tahap ni adalah isi dari pembersihan diri dari pengosongan jiwa, karena jika sesuatu yang kosong tidak cepat dilakukan penggantinya maka akan menimbulkan prustasi. Beberapa hal yang harus diisi dalam menghiasi beberapa perilaku tadi adalah :

a. Tobat

Tobat adalah penyesalan sungguh-sungguh dalam hati yag disertai dengan permohonan ampun serta berusaha meninggalkan segala perbuatan yang dapat menimbulkan perbuatan dosa itu kembali.

b. Cemas dan Harap

Sikap mental seperti ini merupakan ajaran tasawuf yang selalu disandarkan kepada salah seoarang tokohnya yaitu Hasan Al-Basri, yaitu suatu perasaan yang timbul karena berbuat dosa dan lupa kepada Allah.

c. Zuhud

Yaitu suatu sikap mental seorang sufi untuk melepaskan diri dari rasa ketergantungan kepada kenikmatan duniawi dengan mengutamakan kehidupan akhirat yang abadi.

d. Al-Faqr

Sikap ini bermakna seorang sufi tidak menuntut lebih banyak dari apa yang telah dimiliki sehingga tidak menuntut sesuatu yang lain. Sikap ini merupakan benteng dari pengaruh kenikmatan duniawi dan menghindari diri dari keserakahan. Pada prinsipnya sikap ini adalah rentetan dari sikap zuhud, hanya saja zuhud lebih ekstrim, sedangkan faqr adalah sekedar pendisiplinan. Sikap inipun pada gilirannya nanti akan menimbulkan sikap wara’ dalam diri seorang sufi.

e. Al-Shabr

Sikap ini adalah hal yang paling fundamental dalam dunia tasawuf, yaitu sabar. Sikap ini mengandung makna sebagai suatu keadaan jiwa yang kokoh, stabil dan konsekwen dalam pendirian walaupun godaan dan tantangan begitu kuat menerpanya. Seorang sufi tetap kokoh dan stabil menghadapinya. Sikap ini dilandasi oleh suatu anggapan bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan kehendak Tuhan dan kita harus menerimanya dengan sabar.

f. Ridha

Sikap ini merupakan kelanjutan dari arsa cinta yang merupakan perpaduan antara mahabbah dan sabar. Ridho dalam hal ini mengandung makna lapang dada, berjiwa besar dan hati terbuka terhadap apa saja yang datang dari Allah, baik dalam menerima serta melaksanakan ketentuan-ketntuan agama atau masalah nasib dirinya sendiri.

g. Muraqqabah

Sikap ini adalah mawas diri atau lebih tepat dengan mengatakannya Self Correction. Tegasnya adalah sikap kita selalu siap siaga setiap saat untuk meneliti keadaan diri sendiri. Sikap berawal dari sebuah landasan pemikiran bahwa Allah menantiasa mengawasi dan mengamati setiap gerak dan langkah kita selama hidup di dunia.

3. Terapi tajalli

Sikap ini merupakan pemantapan dari tahalli, yang bermakna terungkapnya nur ghaib, yaitu dengan menghayati rasa keber-Tuhanan lebih mendalam yang kemudian akan menimbulkan rasa rindu yang amat sangat kepada Tuhan. Karena kaum sufi berpendapat untuk mencapai kesempurnaan kesucian jiwa hanya dapat ditempuh dengan satu jalan yaitu cinta kepada Allah secara mendalam, makna jalan menuju Tuhan akan terbuka dengan lebar.

Perlu dikatahui bahwa tasawuf merupakan presfektif spiritual untuk memetakan kondisi kejiawaan manusia, dalam usahanya menuju kesempurnaan, yaitu pengetahuan terhadap atau penyatuan dengan Yang Maha Mutlak. Menurut Javad Nurbakhsi (2000 : 3), ada beberapa hal dalam memahami bahwa tasawuf merupakan bagian dari psikologi agama, yaitu:

Pertama, perlu diketahui bahwa para sufi sebagaimana mistis yang lain, memiliki konsep dunia yang berbeda dengan ilmu pengetahuan modern. Ilmu pengetahuan modern menganggap dunia yang dikaji manusia secara valid hanyalah realitas yang obyektif, yang seringkali disebut dunia materi. Meskipun keberadaan dunia non-materi tidak sepenuhnya diingkari, namun mereka tidak memiliki ketegasan, apakah realitas spiritual itu merupakan sesuatu yang ada dalam dirinya sendiri ataukah hanya sisi dalam dunia materi. Sedangkan para sufi dengan tegas menganggap bahwa hakikat realitas bersifat spiritual, karena segala sesuatu berasal dari Tuhan dan Tuhan adalah wujud spiritual.

Kedua, Para sufi juga menganggap diri manusia memiliki lapisan-lapisan yang paralel dengan realitas alam raya. Kita tidak hanya berjumpa dengan istilah mikrokosmos dan makrokosmos, yang menggambarkan bahwa diri manusia adalah miniatur alam raya; melainkan juga mikro-antropos dan makro-antropos, dari Ibnu Arabi yang berarti alam raya sebenarnya merupakan tiruan dalam struktur raksasa dalam diri manusia. Didalam diri manusia terdapat lapisan fisikal yang berada dialam materi; lapisan selanjutnya lebih tinggi adalah nafs yang setara denganalam nasut; lapisan Qalb yang sejajar dengan ‘Arsy; lapisan ruh yang setara dengan Malakut; lapisqaan kesadaran batin, Sirr atau kahfi, yang berada dalam tingkat alam jabarut; serta lapisan kesadaran batin terdalam (Akhfa) yang berada dalam tingkatan alam lahut.

Ketiga, didalam konsep sufi juga terdapat berbagai realitas dan wujud spiritual yang berinteraksi serta memberi pengaruh kepada kondisi jiwa manusia, seperti mukjizat, bantuan malaikat, godaan setan, atau gangguan jin yang bukan hanya terdapat dalam, namun juga tidak mungkin diterima oleh psikologi modern.

Keempat, dalam presfektif mistisisme secara umum, dan juga bagi para sufi, terdapat kaidah yang mengatakan: ‘hanya yang sama bisa saling mengetahui’, yang mengacu kepada kesejajaran antara aspek-espak di dalam diri manusia dengan lapisan alam raya di atas.

Kaidah di atas menjadikan sebuah naskah atau pembicaraan mistik hanya bisa di fahami oleh para mistikus, yaitu orang telah, sedang, akan, atau ingin menekuni kehidupan mistis. Dunia sufi adalah dunia spiritual, yanng tidak dapat diperbincangkan secara diskursif karena tidak memilki acuan kongkrit.

D. Kesimpulan

Dari uraian singkat di atas tentang dunia tasawuf sebenarnya merupakan bagian dari psikologi agama tentang bagaimana kehidupan tasawuf mempunyai ciri yang khas dibanding dengan mistik-mistik agama lain. Tasawuf disini merupakan bagian dari kekayaan khazanah intelektual dan spiritual dalam dunia Islam, dimana telah cukup juga muncul tokoh-tokoh tasawuf yang cukup fenomenal dalam sejarah. Seperti Hasan Al-basri, Jalaluddin Rumi, dan juga Rabi’ah Al-Adawiyah, juga masih hangat dalam benak kita tentang Al-Hallaj sang fenomenal.

Bagi yang tertarik dalam dunia tasawuf, maka ada beberapa terapi yang harus dilalui untuk bisa mencapai maqam yang sejati, yaitu cinta dan ridhha Allah SWT. Terapi itu antara lain adalah takhalli, tahalli dan tajalli. Yang jelas tasawuf bukan hanya sebagai gejala psikologis tetapi terdapat muatan keagamaan yang sulit dibuktikan melalui pendekatan empiris. Namun demikian psikologis agama pada batas-batas tertentu telah memberikan sumbangan yang berharga terhadap pemahaman sikap keagamaan tokoh-tokoh mistik. Paling tidak dalam kehidupan sehari-hari tidak jarang dijumpai kenyataan tentang adanya pengidap gangguan jiwa yang memanfaatkan agama sebagai pengabsah mereka.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Rosihan, 2000. Ilmu Tasawuf, Pustaka Setia. Bandung.

Jalaluddin, 1997, Psikologi Agama, Rajawali Press, Jakarta.

Nurbakhsi, Javad, 2000. Psikologi Sufi (Penterjemah: Arief Rakhmat), Fajar Pustaka, Yogyakarta.

Solkhin, Muhktar, 2000. Ilmu Tasawuf, Pustaka Setia, Bandung.

Simuh, 1997, Tasawuf dan Perkembangannya dalam Islam, Raja Grafindo Persada, Jakarta.



BY DEDE MUNAWAROH

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar